Jumat, November 25, 2016

Mengenal Sualim, Guru Madrasah Swasta Pengabdian 32 Tahun

SemarangEdu.com     Jumat, November 25, 2016  1 comment

Sualim guru terlama (foto: Muhammad Arif)
Ngaliyan. Usianya sudah kepala lima. Namun semangatnya seperti seakan tak lekang dimakan usia. Dialah Sualim (58thn), guru Swasta di MI Miftahul Akhlaqiyah Ngaliyan. Hari ini, bertepatan dengan Hari Guru Nasional dirinya mendapatkan penghargaan dari madrasah tempatnya mengabdi. Pada hari yang bertepatan dengan hari lahir PGRI ke 71 ini dirinya genap mengajar selama 32 tahun.

Raut wajah haru bercambur bahagia terpancar dari bapak lima anak ini. Tatkala menerima selembar sertifikat penghargaan dan barang berupa sebuah telepon genggam. Ia tak sendiri, bersama partner setianya, Nashori, yang juga sudah mengajar puluhan tahun tetap konsisten mengajar di madrasah. Namun, partnernya tersebut kini telah diangkat menjadi guru PNS, dan ditugaskan tetap di madrasah ini.  

Sualim menceritakan perjalanannya awal menjadi guru, sedari awal dirinya memang benar-benar berniat menjadi guru. "Saya benar2 ingin menghidupkan MI," tuturnya kepada SemarangEdu. Jumat (25/11). Keinginan menjadi guru tersebut muncul sesudah ia menikah. 

Padahal saat itu ia tidak memiliki ijazah keguruan, yang dimiliki hanya selembar ijazah SMA. Sebelumya, ia pernah kuliah di Sastra Indonesia di Universitas Diponegoro, namun tidak selesai. 

Meski tanpa ijazah, sebetulnya ia bisa masuk ke pabrik. ia mengisahkan bahwa sekitar tahun 1984 ada seseorang yang menawarinya untuk membawanya bekerja di pabrik. "Sampai pernah diparani (dijemput) selah satu staf kelurahan, diberitahu bahwa pabrik indofood membutuhkan karyawan,"kenangnya. Di lingkungan rumahnya, Bringin, profesi karyawan pabrik saat itu memang sangat diidam-idamkan. Bahkan yang berijazah perguruan tinggi pun kesana kemari mencarinya.

Namun ia tetap tak bergeming, niatnya tetap kokoh untuk mengabdi menjadi guru di madrasah. Ia memimpikan madrasah maju. "Besok kalau (madrasah) sudah  hidup saya bisa kemana saja," tukasnya. 

Gaji pertama yang diterimanya saat itu sebesar Rp. 12.500. Sebagai perbandingan, harga beras saat itu sekitar Rp. 500 per kilogram. Dengan gaji yang bisa dibilang pas-pasan tersebut, ia tetap istiqomah. Untuk menutup kebutuhan ekonomi, Sualim tetap berkebun, mengolah kebun milik orangtuanya. 

Pagi selepas subuh membawa hasil kebun berupa jambu ke pasar Ngaliyan, kemudian sebelum jam 7 ia bergegas pulang untuk mengajar. siangnya pun demikian, ia melanjutkan aktifitasnya memenuhi kebutuhan ekonomi, "selepas sekolah ke kebun," sambungya. 

Jiwa pendidikan yang tertanam pada diri Sualim tampaknya turun dari ayahnya. Sang ayah merupakan guru mengaji di lingkungan tempat tinggalnya. Kini, di usia tuanya, ruh pendidik yang ada pada dirinya masih terjaga, turun ke generasi selanjutnya. Anaknya menjadi guru di Madrasah yang sama dengan tempat Sualim mengajar. 

Kini Sualim patut bersyukur, di masa tugasnya yang hampir berakhir, cita-citanya menghidupkan madrasah telah berhasil. Disamping telah mendapat prediket guru profesional dan berhak mendapat tunjangan profesi, yang secara ekonomi mampu mendongkrak kebutuhan sehari-hari, madrasah tempat ia mengabdi juga telah maju dan diminati masyarakat, bahkan hingga menolak puluhan calon siswa.

Selamat hari guru, patriot pahlawan bangsa! (MA/HA)

, ,

SemarangEdu.com


Portal Berita Pendidikan, menyajikan berita-berita pendidikan yang aktual dan akurat dari kota metropolis Semarang |
Baca halaman utama→

1 komentar :

Komentar menggunakan bahasa sopan dan tidak mengandung unsur SARA. Redaksi berhak mengedit komentar apabila kurang layak tayang.